Jumat, 04 Maret 2016

Bingung Dikasih Judul Apa






Jodoh

Seperti Muhammad dengan Khadijah.
Seperti Ali dengan Fatimah.
Seperti Habibie dengan Ainun.
Seperti Naruto dengan Hinata.

Kata orang kita mirip.
Ya. Bagaimana tidak mirip kau kan tercipta dari tulang rusukku bukan?.
Sebelumnya kita sudah pernah bertemu.
Layaknya seperti Adam dan Hawa.

Kita pun berdua pernah bersama di surga.
Namun karena sejatinya manusia sementara harus tinggal di dunia.
Kau dan akupun terpisah cukup lama.

Tapi aku percaya.
Di saat waktu itu tiba.
Kita akan bersama.
Menua bersama.
Merangkai hidup berdua.
Ya berdua terus bertiga, berempat, berlima dan seterusnya dengan anak-anak dan cucu kita.

Kamu separuh aku, aku separuh kamu.
Saat ini aku sedang mempersiapkan diri untuk menjemputmu.
Semoga kaupun demikian mempersiapkan diri untuk kujemput.
Ya. Karena radarmu telah samar-samar sudah kulihat.
Jadi tak ada kata untukku untuk menunda lebih lama lagi untuk menjemputmu.

Kelak ketika aku sudah meminta ayah dan ibumu untuk membawamu.
Kemudian mengucapkan ijab qabul di depan penghulu.
Setelah itu aku akan setia bersamamu.
kita akan bahu membahu dalam suka dan duka.
Hingga kelak telah tiba waktunya kita pulang ke surga Insya Allah.
Aamiin Allahumma Aamiin

Jodoh tunggu aku ya :D

Kamis, 03 Maret 2016

Kau Tahu Teman, Menurutku Gempa Itu Juga Seperti Teman



Semalam terjadi gempa berkekuatan 7.3 SR di Sumatera Barat. 
Kalian tau teman. Kami yang besar di Sumatera Barat ikut dibesarkan oleh gempa.
Menurutku gempa seperti teman. Teman yang diutus oleh tuhan untuk mengagetkan dan mengingatkan. Teman yang bisa juga membuat trauma. Temanku ini pernah pada tahun 2007 membuat kekagetan besar di seluruh bagian Sumatera Barat. Ya pada siang hari yang cerah. Tepat tanggal 06 Maret 2007 pukul 10.59 WIB gempa berkekuatan 5,8 scala richter (SR) menguncang Sumatera Barat tepatnya di kedalaman 33 km berjarak 16 kilometer Barat Daya Batusangkar. 

Waktu itu guru geografiku sedang menjelaskan tentang gempa. Dia datang. Seakan-akan dia mendengar kalau namanya dipanggil. Seketika itu aku dan teman-temanku di kelas hilang akal. Terombang ambing ke kiri ke kanan di dalam kelas. Sedikit sulit aku menjelaskan bagaimana rasanya. Yang pasti kau bisa membayangkan rasanya seperti berada di atas mobil lalu mobil itu terguling beberapa kali dan kita berada di dalam mobil itu. Tak lama memang teman kami ini datang. Hanya 1 menit tapi cukup untuk membuat semua manusia yang merasakannya menjerit, menangis dan beristigfar kepada Sang Kuasa.

Beberapa gedung disekolahku juga ikut hancur dengan kedatangan temanku ini. Teman-teman sekolahku yang lagi berkumpul, yang lagi berjalan di taman sekolah beberapa ada yang terluka karenanya. Dan ada juga temanku yang kakinya patah. Karena ketika gempa berlangsung. Dia sedang melompat dari depan pintu kelas. Karena ruangan sekolahku dibuat agak tinggi dari tanah jadi ada jarak sekitar 1,5 meter dari lantai sekolah ke tanah. Sehingga getaran gempa membuatnya salah posisi turun dan akhirnya tulang kakinya patah. Cukup mengerikan memang. Aku pun tak berani melihat kaki temanku itu. Beberapa.menit setelah gempa datang tanpa pengumuman langsung pulang ke rumah masing-masing takut akan ada gempa susulan dan ingin cepat-cepat bertemu keluarga. Sekolah diliburkan selama satu minggu dan selama itu pula kami tidur di tenda di halaman rumah. Listrik padam. Sinyal komunikasi sempat hilang selama 2 hari pasca kejadian. 

Kedatangan temanku itu bahkan sampai sekarang masih menyisakan trauma. Aku masih trauma dengan getaran. Ketika sendiri misalnya, getaran yang mungkin disebabkan karena aku lapar atau sedang sakit. Pasti membuatku berpikir terjadi gempa. Itulah yang membuatku ketika ada di perantauan ini sering takut mendengar ketika ada gempa di sumatera barat. Tanah kampungku karena seluruh keluargaku ada di sana hanya bapakku yang merantau di kota Palembang.

Karena sudah seringnya gempa terjadi di Sumatera Barat. Sedikit banyak ada beberapa situasi yang bisa dijadikan firasat apabila gempa akan datang. Misalnya cuaca akan cerah dan tak ada angin sedikit pun. Bisa dibilang hari akan gempa itu tenang, hening. Seakan-akan bersiap untuk menyambut gempa itu datang. Itu menurut pendapatku para orang-orang tua di kampungku.

Tetapi dibalik setiap kejadian pasti ada hikmahnya bukan?. Ya, hikmah yang kudapatkan adalah ketika ada gempa semuanya baru ingat kembali akan tuhan. Meskipun sebenarnya itu sangat tidak bagus untuk kita. Yang memang seharusnya selalu mengingat Tuhan. Dan menyadarkan kita juga bahwa dunia dan seisinya adalah ciptaan Tuhan. Sehingga apa yang dilakukan Tuhan memang  semata-mata keinginan-Nya.


Rabu, 02 Maret 2016

Menulislah karena Allah


"Apa yang dari hati akan sampai ke hati". Itu kata pepatah yang masih sulit aku terapkan dalam menulis. Ya, sebagai seorang yang baru mulai menulis. Menulis dengan hati itu susah sekali menurutku. Apalagi seperti diriku yang sangat mudah berpikiran negatif terhadap tulisan. Baru menulis satu kalimat saja langsung timbul pikiran negatif yang memerintahkan menghapus tulisan itu. Begitulah seterusnya. Sampai-sampai yang awalnya ingin menulis malah tidak ada yang ditulis.

 Mungkin setiap penulis pemula sepertiku pernah merasakan hal ini. Bagaimana sulitnya untuk menuliskan sebuah kalimat. Apalagi godaan godaan dalam menulis yang begitu besar. Baru saja menulis judul tulisan saja sudah digoda dengan hal hal lain seperti godaan untuk membuka media sosial seperti facebook, Bbm, Wa dan yang lainnya. Sehingga ide yang awalnya telah muncul ke permukaan seakan-akan mundur teratur dan meninggalkanku. Ya bagaimana ide tidak pergi meninggalkan. Belum apa-apa kita sudah berhenti menulis dan melakukan hal lain yang sebenarnya bisa kita lakukan setelah menulis.

 Memanglah sesuatu yang baik pasti akan selalu ada godaannya. Satu yang perlu kita lakukan adalah selalu meminta perlindungan kepada Allah dan meminta pertolongannya agar apa yang kita lakukan selalu diberkahi. Mungkin satu kunci yang kudapatkan agar bisa menulis dengan hati adalah niatkan menulis itu karena Allah. Dan semoga ketika niat itu Lillah. Insya Allah apa yang kita lakukan bisa dilakukan dari hati dan tanpa disadari akan sampai ke hati jua.

Selasa, 01 Maret 2016

Tanah Jawa dan Kota Hujan



"Ibu. Izinkan aku merantau ibu?"
Ibu Malaka tampak kaget, namun beberapa detik kemudian ibu tersenyum "Insya Allah ibu izinkan Nak. Kau sudah dapat petunjuk?".

"Sudah Bu, tadi malam aku mendapatkan petunjuk di dalam mimpiku. Aku bermimpi sedang berada di atas bis tanjung jaya menuju ke kampung kita ibu. Ketika aku tiba di desa aku senang sekali ibu. Seperti sudah lama aku tidak melihat desa. Aku membawa satu map yang selalu ku genggam erat. Dan ketika aku tiba di rumah aku memberikannya kepada ibu. Lalu ibu berkata Alhamdulillah nak. Kau sudah jadi sarjana. Semoga ilmu yang kau dapatkan bisa bermanfaat untuk orang lain nak. Kemudian aku terbangun dari tidur" malaka mengakhiri percakapannya.

"Baiklah nak engkau aku restui nak. Nanti sore mintalah izin kepada bapakmu dan sekalian mintalah kepada bapakmu untuk mengantarkanmu ke kota"
"Baik bu" malaka memeluk ibu.
"Nak. Jangan pernah kau lupakan kewajibanmu kepada Allah, bagaimanapun keadanmu di sana kau tidak boleh lupa dengan penciptamu nak" ibu terisak
"Insya Allah ibu. Aku akan selalu mengingat nasehat ini ibu" malaka berusaha menahan tangis
Bis yang membawa malaka telah meninggalkan desa tercintanya. Dalam hati malaka berucap "Tunggu aku kembali kampungku. Aku akan membawa secercah harapan untukmu".

Untuk pertama kalinya malaka melakukan perjalanan jauh. Apalagi hingga ke pulau seberang. Tujuan malaka hanya satu. Ingin menjadi orang yang bermanfaat dengan ilmunya kelak. Sedikit yang dia ketahui tentang pulau jawa, malaka hanya tau bahwa di jawa ada ibukota indonesia jakarta. adalah daerah yang baru diketahui oleh malaka.
Namun perantauan malaka kali ini bukanlah ibukota tetapi kota bogor. Ya, kota hujan adalah tanah perantauan awalnya, tempat permulaan malaka berkelana mencari ilmu dan mencari makna hidup.

Potongan mozaik-mozaik itu bermula di kota hujan.

Hujan pula yang akan menemani petualangan malaka di kota ini...


Senin, 29 Februari 2016

Semangat itu bernama One Day One Post

Bismillahirrahmanirrahim

Beberapa hari lalu ketika berselancar di beranda facebook. Pada sebuah akun bernama Bang Syaiha aku membaca sebuah informasi. Informasi tentang sebuah pendaftaran kelas One Day One Post Batch 2. Ya awalnya aku sedikit bingung apa itu One Day One Post. Yang aku tahu One Day One Juz. Namun setelah aku klik link tautan blog tersebut aku mendapatkan informasi bahwa One Day One Post adalah sebuah kegiatan untuk selalu menulis setiap hari lewat sebuah blog. Dan setiap hari kita wajib untuk menulis tulisan setidaknya 10 kalimat setiap hari. Kegiatan ini awalnya digagas oleh bang Syaiful Hadi atau yang lebih dikenal dengan Bang Syaiha. Tujuannya untuk kegiatan ini adalah untuk para penulis. Terutama untuk penulis pemula agar rutin dalam melaksanakan kegiatan menulis. Ya. Namanya juga seorang penulis. Satu kegiatan yang akan membuat dia menjadi seorang penulis handal ya tentunya menulis. Menurut Bang Syaiha ketika kita sudah membiasakankan menulis setiap harinya maka kemampuan dalam menulis semakin meningkat dan akan membuat tulisan menjadi semakin bagus. Karena setiap hari kita telah memaksa otak kita untuk menulis. Apapun itu yang penting kita menulis. Bahkan ketika kita tidak mempunyai ide sekalipun bisa kita buat menjadi sebuah tulisan tentang ketiadaan ide tersebut. Hari ini adalah hari ini pertamaku dan teman-teman yang ikut One Day One Post melaksanakan kegiatan ini. Kegiatan yang rutin setiap hari senin sampai jumat untuk menulis di blog sedangkan sabtu minggu libur namun apabila kita ingin menulis akan lebih baik. Tampaknya semangatku untuk menulis Insya Allah akan bertambah lagi dengan kegiatan ini. Allah mendengarkan doaku agar tetap teguh dalam.memperjuangkan mimpiku untuk menjadi seorang penulis. Allah memberikan jawaban itu melalui ini. Seakan-akan Allah menjawab doaku "Baiklah Aku akan berikan kau tambahan semangat untuk memperjuangkan mimpimu itu One Day One Post itu nama semangat itu.

Rabu, 24 Februari 2016

Mozaik Malaka

Malaka adalah seorang anak muda yang penuh semangat. Lahir dan besar di sebuah desa di pedalaman sumatera. Membuat kehidupan masa kecilnya penuh dengan kegembiraan. Kehidupan desa yang asri jauh dari bising suara kendaraan dan polusi udara. Membuat Malaka tumbuh menjadi anak muda yang bersemangat dan selalu riang gembira. Didikan orang tuanya lah yang membuat Malaka menjadi pemuda seperti itu. 17 tahun sudah umur Malaka. Sudah saatnya dia melakukan sebuah perjalanan jauh mencari jati diri di negeri orang. Malaka telah lulus SMA. Dengan nilai yang bisa dibilang tidak buruk. Malaka mendapatkan nilai tertinggi kelima di sekolahnya. Hal itu yang membuat guru-guru Malaka menyuruh untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
"Kau harus kuliah nak. Kau anak yang pandai. Tak patut hanya sampai di sini pendidikanmu. Kau harus kuliah. Seperti anak-anak di kota. Ibu yakin kau bisa".
Kata-kata Ibu Aisyah masih tergiang-ngiang di pikiran Malaka. Kata-kata yang memberikan semangat bahwa dia harus tetap berjuang untuk melanjutkan pendidikannya.
Tapi. Malaka tidak ingin meninggalkan kedua orangtuanya. Malaka sudah bahagia meskipun tak bisa lanjut kuliah asalkan tetap bersama orang tuanya di desa. keadaan itu sudah membuat dia senang.
Namun hati kecil Malaka memiliki pikiran yang berbeda. Pikiran untuk melanjutkan pendidikan. Malaka ingin seperti anak-anak di kota. Merasakan bangku kuliah. Belajar menuntut ilmu agar kelak bisa membagikan ilmu tersebut kepada orang lain.
Setelah seminggu Shalat Istikharah meminta petunjuk kepada Allah. Malam ke delapan Malaka mendapatkan petunjuk dari sang kuasa. Petunjuk yang membawanya pada keputusan penting dalam hidupnya.
Malaka akan merantau.
Bersambung...

Pergi

Pergi
Manusia seharusnya mengerti akan hakikat pergi
Sejak manusia diciptakan
Manusia telah mengikat janji pergi untuk kembali
Pergi sementara dari surga untuk singgah sebentar di dunia
Itulah hakikat manusia
Harus pergi
meninggalkan semua nikmat di surga
Untuk terlahir menjadi seorang manusia
Manusia pergi dari satu masa ke masa yang lain
Pergi dari masa kecil ke masa dewasa
Pergi dari masa dewasa ke masa tua
Pergi dari masa hidup ke masa tak bernyawa
Manusia pun
Pergi dari satu kejadian ke kejadian lain
Pergi dari satu tempat ke tempat lain
Di dunia pun manusia tetap pergi
Pergi mencari kebaikan yang bertebaran di mana mana
Ketika mendapat satu kebaikan manusia harus tetap pergi lagi mencari kebaikan berikutnya
Karena pergi kali ini akan menentukan kelak akan ke mana kita akan pergi
Karena hakikat manusia harus pergi
Pergi untuk kembali
Hingga kelak hidup kembali
Tetap untuk pergi
Pergi ke alam yang hanya punya satu tujuan untuk pergi
Dan Allah lah yang menentukan kita di alam ini
Alam yang dapat mempertimbangkan
Apa, ke mana dan untuk apa kita dahulu pergi di dunia pilihan pergi hanya dua
Apa kelak akan kembali pulang ke surga
Ataukah akan berbelok pergi ke neraka
luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com