Tampilkan postingan dengan label Mozaik Kenangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mozaik Kenangan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Maret 2016

Ikal dan Arai

"Bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi itu".
Itulah kutipan dari buku Sang Pemimpi yang selalu aku percayai sampai sekarang. Kepercayaan tentang mimpi.

Dulu sebelum aku membaca buku Tetralogi Laskar Pelangi karya Bang Andrea Hirata. Aku tidak tahu apa makna mimpi. Yang kutahu mimpi ya mimpi. Mimpi yang ada ketika kita tidur. Namun setelah aku membaca buku pertama dari Tetralogi ini, Laskar Pelangi.

Aku baru menyadari bahwa mimpi adalah satu hal yang sangat penting dalam kehidupan. Tanpa mimpi. Mungkin dunia yang kita huni ini tak akan pernah punya pesawat. Lampu bahkan smartphone yang kita pegang sekarang ini.

Ya. Semua itu berawal dari sebuah mimpi manusia. Manusia yang berpikir bahwa sesuatu bisa kita dapatkan ketika kita meyakinkan diri bahwa kita bisa mendapatkannya.

Allah sudah sangat adil dengan diri kita. Telah diciptakan kita dengan bentuk sedemikian sempurna dan ditambahkan dengan akal dan pikiran yang dititipkan kepada kita agar kita menggunakan untuk kebaikan. Menggunakannya untuk membuat sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain.

Sang Pemimpi buku kedua dari tetralogi ini semakin menguatkanku tentang kekuatan mimpi. perjuangan tokoh arai dan ikal di dalam buku ini dalam memperjuangkan mimpi-mimpinya. Membuatku terbawa akan ceritanya. Sehingga aku selalu membayangkan berada di dalam cerita itu. Buku ini jugalah yang membuatku bisa merantau.

Merantau menyebrangi Pulau Sumatera ke Pulau Jawa. Kenapa aku bisa memikirkan hal ini. Sebab kota perantauan pertamaku adalah kota bogor. Ya meskipun jalan ceritanya tidak terlalu sama dengan Ikal dan Arai. Tapi bagiku kesamaan kota perantauanku dengan mereka semakin menguatkanku bahwa aku juga bisa mendapatkan mimpi yang kupercayai.

Dan beberapa mimpiku juga terinspirasi dari mereka yaitu menjadi penulis dan juga mimpi berkelana hingga ke luar negeri. Dan insya Allah sampai kapanpun mimpi ini akan ku yakini sampai Allah memeluk mimpi-mimpiku.

Rabu, 09 Maret 2016

Mozaik Tentangku (Bagian 2)



Tentang mimpi. Dulu waktu kecil tidak seperti teman-temanku yang lain. Aku tidak pernah memiliki mimpi yang spesifik bahkan ketika SMA seorang guru bertanya kepadaku tentang mimpi. Waktu itu aku hanya menjawab "ingin menjadi orang yang bisa membahagiakan keluarga dan orang lain". Ya sesimpel itu mimpi yang kumiliki. Sehingga membuatku tidak memilki mimpi yang kuat sejak dari kecil hingga umur 22 tahun.

Mimpi menjadi seorang penulis baru kutemukan ketika aku bekerja di salah satu bank swasta di kota kelahiranku palembang 2 tahun yang lalu. Di mana ketika fase jenuh dalam rutinitas pekerjaan. Aku mulai berpikir apa yang harus aku lakukan. Karena aku tidak ingin menua menjadi seorang karyawan. akhirnya di waktu liburan ke bogor tahun 2014 aku akhirnya menemukan sebuah mimpi. Mimpi menjadi seorang penulis.

Mimpi yang sebenarnya sudah sedikit terlihat dan tertanam dalam diriku sejak kecil. Ketika menginjak kelas 3 SD. Di mana aku baru bisa membaca. Membuatku senang sekali untuk membaca apa saja tulisan aku baca. Sehingga buku pelajaran terutama buku bahasa indonesia yang penuh dengan cerita-cerita telah khatam ku baca. Mungkin juga kebiasaanku membaca buku ini tercipta karena sifatku yang tidak terlalu menyukai keramaian. Sehingga membuatku lebih memilih duduk seharian dengan berbagai buku-buku yang bisa kubaca dan bisa membuatku berimajinasi pergi kemana-mana.

Ya. Meskipun mimpi menjadi penulis masih jauh dari pandangan. Tapi aku selalu percaya dan akan terus menulis sehingga aku bisa menjemput salah satu mimpi besarku ini. Sedikit.mengutip dari sebuah pepatah yang berbunyi : Percayalah. Karena dengan kau percaya, itu berarti kau sudah berada setengah perjalanan untuk mengapai apa yang kau percayai itu.

Oh iya. Sedikit tentang nama blog ini Abrar Ananta. Adalah nama pena yang kutemukan ketika memikirkan sebuah nama pena untukku dalam dunia kepenulisan. Ya seperti kebanyakan penulis, lebih menyukai mencantumkan nama pena dalam setiap karya-karyanya.

Abrar adalah akronim dari namaku Abdal Rahman dan nama Arai. Arai adalah nama salah satu tokoh di buku Sang Pemimpi karya Andrea Hirata yang sangat menginspirasiku dalam mempercayai sebuah mimpi. Sehingga nama Abrar akhirnya kujadikan nama depan untuk nama penaku. Dan ketika kutelusuri arti nama tersebut artinya sangat bagus. Berasal dari bahasa arab yang artinya seseorang yang melakukan kebajikan. Sedangkan Ananta berasal dari bahasa sansekerta yang artinya tanpa batas. Sehingga Abrar Ananta berarti seorang yang berbuat kebajikan tanpa batas. Dan semoga nama Abrar Ananta bisa menjadikanku seseorang yang berbuat kebajikan tanpa batas dengan menulliskan tulisan yang bermanfaat bagi orang lain.

Mozaik Tentangku (Bagian 1)

Gambar diambil dari Google





Kurang lebih 24 tahun yang lalu, seorang anak laki-laki keturunan Minang lahir di sebuah rumah bidan yang berada di kawasan Pasar Kuto Palembang. Hari itu jumat 20 Maret 1992 tepat pukul 15.00 WIB raungan tangisan seorang bayi menggema di salah satu kamar, bayi laki-laki yang kelak akan menuliskan cerita tentang dirinya sendiri dalam sebuah karya tulis. Awalnya nama dari bayi ini adalah Angga Saputra, namun entah kenapa kedua orang tua bayi ini mengganti nama tersebut karena usulan dari seorang. Katanya nama itu tidak cocok disandang oleh bayi ini sehingga membuat dia sering sakit-sakitan. sejurus kemudian seorang ustad menyuruh orang tua bayi ini mencari nama baru dan menyarankan nama diambil dari bahasa arab.

Orang tua bayi ini akhirnya menemukan nama yang tepat dan berharap anak mereka menjadi seseorang yang memiliki sifat seperti arti dari namanya tersebut. Nama bayi itu adalah Abdal Rahman, di mana sang anak baru mengetahui bahwa namanya sangat bagus setelah berumur 20 tahun. Abdal Rahman, diambil dari kata Abdul dan Rahman, Abdul/Abdal dalam bahasa arab yang berarti hamba Allah dan Rahman yang artinya penyayang sehingga ketika nama ini dirangkai akan menjadi sebuah harapan dan doa supaya anak ini bisa menjadi seorang Hamba Allah yang selalu penyayang terhadap sesamanya.

Anak itu adalah aku. Seorang pemuda yang sekarang berumur 24 tahun kurang 11 hari. Seorang anak yang cenderung suka sendirian. Sedikit bicara lebih sering mengamati. Setiap apa yang ada di dunia ini berpasang-pasangan. Ada yang senang bicara ada juga yang lebih banyak mendengar. Aku termasuk bagian yang kedua di dalam keluargaku.

Sejak kecil hingga sekarang tetap saja aku adalah seorang yang pendiam. Bahkan bisa dibilang takut sekali untuk berbicara di depan banyak orang. Aku lebih senang berada di belakang, di belakang orang-orang yang suka berbicara. Sebenarnya aku tidak suka dengan karakterku ini. Bahkan sampai sekarang pun aku masih bertanya-tanya mengapa Allah memberikan aku karakter pendiam seperti ini. Terkadang aku sering berkhayal seandainya aku bisa seperti orang lain. Yang sangat mudah untuk berkenalan dengan orang lain. Tidak takut bertemu orang baru dan sangat percaya diri berbicara di depan banyak orang.

Bersambung...

Kamis, 03 Maret 2016

Kau Tahu Teman, Menurutku Gempa Itu Juga Seperti Teman



Semalam terjadi gempa berkekuatan 7.3 SR di Sumatera Barat. 
Kalian tau teman. Kami yang besar di Sumatera Barat ikut dibesarkan oleh gempa.
Menurutku gempa seperti teman. Teman yang diutus oleh tuhan untuk mengagetkan dan mengingatkan. Teman yang bisa juga membuat trauma. Temanku ini pernah pada tahun 2007 membuat kekagetan besar di seluruh bagian Sumatera Barat. Ya pada siang hari yang cerah. Tepat tanggal 06 Maret 2007 pukul 10.59 WIB gempa berkekuatan 5,8 scala richter (SR) menguncang Sumatera Barat tepatnya di kedalaman 33 km berjarak 16 kilometer Barat Daya Batusangkar. 

Waktu itu guru geografiku sedang menjelaskan tentang gempa. Dia datang. Seakan-akan dia mendengar kalau namanya dipanggil. Seketika itu aku dan teman-temanku di kelas hilang akal. Terombang ambing ke kiri ke kanan di dalam kelas. Sedikit sulit aku menjelaskan bagaimana rasanya. Yang pasti kau bisa membayangkan rasanya seperti berada di atas mobil lalu mobil itu terguling beberapa kali dan kita berada di dalam mobil itu. Tak lama memang teman kami ini datang. Hanya 1 menit tapi cukup untuk membuat semua manusia yang merasakannya menjerit, menangis dan beristigfar kepada Sang Kuasa.

Beberapa gedung disekolahku juga ikut hancur dengan kedatangan temanku ini. Teman-teman sekolahku yang lagi berkumpul, yang lagi berjalan di taman sekolah beberapa ada yang terluka karenanya. Dan ada juga temanku yang kakinya patah. Karena ketika gempa berlangsung. Dia sedang melompat dari depan pintu kelas. Karena ruangan sekolahku dibuat agak tinggi dari tanah jadi ada jarak sekitar 1,5 meter dari lantai sekolah ke tanah. Sehingga getaran gempa membuatnya salah posisi turun dan akhirnya tulang kakinya patah. Cukup mengerikan memang. Aku pun tak berani melihat kaki temanku itu. Beberapa.menit setelah gempa datang tanpa pengumuman langsung pulang ke rumah masing-masing takut akan ada gempa susulan dan ingin cepat-cepat bertemu keluarga. Sekolah diliburkan selama satu minggu dan selama itu pula kami tidur di tenda di halaman rumah. Listrik padam. Sinyal komunikasi sempat hilang selama 2 hari pasca kejadian. 

Kedatangan temanku itu bahkan sampai sekarang masih menyisakan trauma. Aku masih trauma dengan getaran. Ketika sendiri misalnya, getaran yang mungkin disebabkan karena aku lapar atau sedang sakit. Pasti membuatku berpikir terjadi gempa. Itulah yang membuatku ketika ada di perantauan ini sering takut mendengar ketika ada gempa di sumatera barat. Tanah kampungku karena seluruh keluargaku ada di sana hanya bapakku yang merantau di kota Palembang.

Karena sudah seringnya gempa terjadi di Sumatera Barat. Sedikit banyak ada beberapa situasi yang bisa dijadikan firasat apabila gempa akan datang. Misalnya cuaca akan cerah dan tak ada angin sedikit pun. Bisa dibilang hari akan gempa itu tenang, hening. Seakan-akan bersiap untuk menyambut gempa itu datang. Itu menurut pendapatku para orang-orang tua di kampungku.

Tetapi dibalik setiap kejadian pasti ada hikmahnya bukan?. Ya, hikmah yang kudapatkan adalah ketika ada gempa semuanya baru ingat kembali akan tuhan. Meskipun sebenarnya itu sangat tidak bagus untuk kita. Yang memang seharusnya selalu mengingat Tuhan. Dan menyadarkan kita juga bahwa dunia dan seisinya adalah ciptaan Tuhan. Sehingga apa yang dilakukan Tuhan memang  semata-mata keinginan-Nya.


luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com